
Penganugerahan GITA UTAMA NUGRAHA 2009
Oktober 14, 2009MESKIPUN masih menunjukkan geliat yang cukup bagus, tidak bisa dimungkiri, kreativitas musisi dan penyanyi di Bali mengalami penurunan yang cukup drastis dalam setahun terakhir. Semangat untuk berkarya masih tetap tinggi atau ada, namun dalam menyikapi kondisi yang memang kurang begitu kondusif, banyak yang tak bisa berbuat apa. Akibatnya bisa dirasakan dari merosotnya jumlah rekaman musisi Bali yang beredar sepanjang tahun ini.
Di jalur lagu pop Bali, penurunan mencapai hampir 30 persen. Jika periode Oktober 2007 – September 2008 misalnya tercatat ada sekitar 30 album rekaman lagu Bali yang beredar, maka periode Oktober 2008 – September 2009, hanya ada 21 album rekaman yang dirilis. Penurunan paling drastis terjadi di kancah musik indie Bali. Jika setahun lalu jumlah album indie yang beredar mencapai sekitar 23 judul, tahun ini tercatat hanya ada 11 judul.
Angka-angka tersebut tentu tak termasuk kreativitas musisi indie maupun lagu pop Bali yang hanya merilis single, atau sudah rekaman tetapi masih sebatas demo saja. Penurunan tersebut tentu mengundang tanda tanya, bagaimana prediksi di tahun-tahun mendatang? Khususnya di jalur musik indie, malah ada kekhawatiran akhirnya semua kembali lebih fokus pada kesibukan manggung saja, dan tak bergairah untuk menggarap album atau paling tidak mini album. Kalau menuangkan kreativitas hanya dalam bentuk single, atau merilis satu lagu saja, barangkali masih akan tetap tampak beberapa waktu ke depan.
Ibarat nyala api atau nyala lilin, aktivitas dan gairah (bukan hanya produser saja) untuk merilis album rekaman memang kian meredup. Maka perlu menjadi perhatian kiranya bagaimana menjaga agar nyala yang kian meredup ini jangan sampai padam. Kalaulah nyala ini masih tetap bisa dipertahankan, siapa tahu, nyen nawang buin pidan, kondisi akan membaik, geliat berproduksi insan musik di Bali akan meningkat lagi.
Sejalan dengan pemikiran itu pula, Bali Music Magazine berupaya untuk tetap melanjutkan gelaran tahunan Malam Apresiasi Musik Bali. Sejak dilangsungkan pertama kali 2008 lalu, ajang penghargaan bagi kreativitas insan musik di Bali ini, diharapkan bukan hanya sekadar sebagai sebuah kebanggaan, namun juga bisa memacu semangat pemusik di Bali untuk tetap berkarya meskipun dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Jika tidak ada aral melintang, acara yang diisi dengan penganugrahan Gita Utama Nugraha ini akan digelar 7 November mendatang di Nirmala Hotel & Convention, Jl. Mahendradatta No. 81 Denpasar.
“Penghargaan semacam ini perlu tetap ada. Karena dengan acara ini insan musik di Bali masih ada semangat untuk tetap bertahan, juga berupaya menumbuhkan optimisme untuk berkarya lagi bagi perkembangan musik Bali yang cukup lama mengalami kelesuan,” komentar penyanyi lagu pop Bali, Ayu Stiati.
“Sudah selayaknya Gita Utama Nugraha dilanjutkan, agaer bisa menjadi motivasi bagi pelaku musik di Bali. Tetap semangat,” kata Nanoe Biroe.
“Kalau bisa terus dilanjutkan, karena ini positif buat musisi muda untuk mengembangkan bakatnya,” ujar Marselo, vokalis band The Hydrant.
“Pasar rekaman lagu lesu, susah dapat untung, kata produser. Di lain sisi, kebutuhan dasar dari penyanyi dan musisi perlu dilanjutkan. Yang namanya apresiasi, sebagai salah satu kebutuhan seniman musik, perlu terus dilaksanakan, agar seniman tetap terpacu berkarya,” harap musisi sekaligus penata rekaman lagu pop Bali, Eko Wicaksono.
Line Up Artists
Oktober 19, 2009SELAIN diisi dengan penyerahan penghargaan Gita Utama Nugraha untuk insan musik di Bali, dari musik indie sampai lagu pop Bali, acara malam Apresiasi Musik Bali 2009 juga dimeriahkan penampilan sejumlah musisi dan penyanyi yang merilis karya mereka sepanjang tahun ini. Acara akan dipandu duet MC Agung Wirasutha dan Sri Sumahardani. Beberapa nama yang akan meramaikan acara seperti :
- DIALOG DINI HARI
- TOLBANDTOL
- JEANIE
- BAND_INDONESIA
- WIDI WIDIANA
- OCHA
- MARCO
- ANANTASIKA
Album Indie dan Lagu Pop Bali
Oktober 14, 2009DALAM rentang waktu setahun terakhir, kisaran Oktober 2008 hingga September 2009, jumlah rekaman yang dirilis di Bali terhitung lumayan, meskipun ada kecenderungan penurunan dari segi kuantitas. Dari komunitas musik indie misalnya, dari catatan BM2, ada sekitar 12 album yang dirilis terutama dalam format CD audio. Sementara dari blantika lagu pop Bali, meskipun jumlahnya tidak banyak sekali, namun mencapai angka lebih dari 20 album dalam format pita kaset dan CD audio. Album rekaman yang sudah beredar inilah nantinya akan terangkum pada Malam Apresiasi Musik Bali 2009 mendatang.
Tentunya ada banyak faktor atau hal yang dipertimbangkan untuk menentukan siapa yang masuk unggulan atau akan meraih penghargaan nantinya. Selain kreativitas dalam berkarya, kualitas baik secara personel penyanyi dan musisi, penggarapan dan hasil rekaman, tentunya respon publik penikmat musik juga menjadi pertimbangan tersendiri. Berikut adalah rekaman yang tercatat di redaksi BM2 untuk periode Oktober 2008 hingga September 2009.
Kategori Musik Indie
1. Bukan Mimpi (Artmostphere) — mini album
2. Heart To Heart (Tunnetta)
3. The Cheers (The Cheers)
4. Mari Bergoyang dan Bergelinjang (Tol Band Tol)
5. Live Life (Tissue)
6. Salto (Navicula)
7. Bali Bandidos (The Hydrant)
8. Beranda Taman Hati (Dialog Dini Hari)
9. Perfect Glory (Jeanie)
10. Terus Melangkah (The Sora)
11. Melompat_i Masa Lalu (band_indonesia)
12. Discotion Pill (amphe_therapy)
Kategori Musik Pop Bali
1. Ada Sing Ada (Eka)
2. Kabisekayang Ratu (Anantasika)
3. Ocha (Ocha)
4. Sing Bani (Gubag)
5. Pak Bos (AA Raka Sidan)
6. Made In Bali (Bintang)
7. Tukang Mitra (Alin & Wulan)
8. Jomblo (Nicky Aditya)
9. Bung Karno Bung Hatta (Made Loka)
10. Calo (Badeng)
11. Anak Gaul (Sanjiwani Group)
12. Top Kompilasi (Yudi Kresna, Dek Arya, Ari Shinta)
13. m3tamorforia (Nanoe Biroe)
14. Melajah Mandiri (Canda Ditya)
15. Baju Anyar (Dek Ulik)
16. Isin Gumi (Poster)
17. Gek Cantik (Widi Widiana)
18. Beda Rasa (Jagad)
19. Mulih Luh (Dipa)
20. I Love Bali (Marco)
21. Paileh Gumi (Taksu)
22. Tisson (Tisson)
23. De Ngaku Sakti (Astina)
24. Vitik Generation (Vitik Generation)
25. Angsa Masceti (Angsa Band)
Penghargaan untuk Band Indie dan Musik Pop Bali
Oktober 14, 2009Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, perkembangan musik di Bali terbilang sangat pesat. Untuk urusan band misalnya, begitu banyak bermunculan grup band yang potensial. Ini kemudian diikuti maraknya ajang kompetisi atau festival band yang kian merangsang bermunculannya bakat musisi baru. Apalagi kemudian musisi Bali mulai mendapat pengakuan secara luas tak hanya di daerah, namun juga tingkat nasional seperti diterimanya SID, The Hydrant, Kaimsasikun, Navicula untuk rekaman nasional, atau Lolot dan Pandawa yang pernah masuk unggulan SCTV Music Awards untuk kategori band indie ngetop.
Belum lagi kalau berbicara lagu pop Bali, dalam dasawarsa terakhir mengalami kemajuan sangat pesat. Jumlah rekaman lagu pop Bali sempat mencapai puncaknya tiga tahun silam, dan hingga kini jumlah penyanyi dan grup band yang membawakan lagu pop Bali juga terus bertambah. Meskipun banyak yang mengatakan kalau saat ini kondisi rekaman lagu pop Bali sedang melemah, pada kenyataannya kreativitas musisi dan penyanyi lagu berbahasa Bali tak pernah padam. Tiap saat ada saja penyanyi atau grup baru yang muncul, yang dengan bangga menembangkan syair lagu berbahasa Bali.
Di sisi lain, studio musik juga kian banyak bermunculan, entah sekadar studio latihan maupun studio rekaman. Hingga terasa kalau musik di Bali memang sedang menggeliat dan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tidak heran jika sejumlah pekerja musik nasional hingga internasional menaruh perhatian dan harapan akan perkembangan musik di Bali. Sebutlah misalnya peran serta produser dan penata musik kelas dunia seperti Peter Heckmann yang kini sedang bersemangat membantu menangani bakat penyanyi dan sejumlah band indie di Bali.
Meskipun perkembangan musik di Bali begitu nyata terlihat, namun bentuk perhatian dan penghargaan terhadap pekerja seni di bidang audio ini masih terasa kurang. Jika di tingkat nasional ada beragam ajang pemberian penghargaan digelar sebagai salah satu pemicu semangat para pegiat musik untuk berkarya, di Bali sendiri nyaris tak ada kegiatan serupa. Bertolak dari pemikiran itulah, Bali Music Magazine (BM2) menyiapkan satu acara yang diberi nama Malam Apresiasi Musik Bali. Sesuai namanya, acara ini memang dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi atas hasil kerja pegiat musik di Bali, mulai dari penyanyi, penata musik, hingga penggarap video klip.
“Kami rasa even seperti ini perlu dibuat untuk menumbuhkan semangat dalam berkarya, memacu kreativitas musisi di Bali. Ini baru satu langkah kecil sebagai sebuah awal. Ya mudah-mudahan bisa memberi arti bagi perjalanan rekan-rekan musisi dan penyanyi di Bali, mulai dari musik indie sampai lagu pop Bali,” jelas Made Adnyana, penggagas acara ini.
Malam Apresiasi Musik Bali 2008 pertamakali berlangsung 7 November 2008 di Mutiara Grand Ballroom, Hotel Nikki, Denpasar. Saat itu disampaikan semacam penghargaan kepada pelaku musik di Bali, baik dari kategori lagu pop Bali maupun band indie. Ada 17 macam penghargaan yang akan disampaikan dari kategori populer sampai yang terbaik. Untuk tahun ini, acara akan diselenggarakan di ballroom Hotel Nirmala, Jl. Mahendradatta, Denpasar. Penghargaan akan diberikan untuk rekaman lagu pop Bali dan band indie dalam rentang waktu setahun terakhir, atau periode Oktober 2008 hingga September 2009.
“Ini baru satu langkah awal. Tentunya belum bisa sempurna atau seperti bayangan akan satu even yang megah dan gemerlap. Namun demikian mudah-mudahan ini bisa menjadi awal untuk sesuatu yang lebih baik lagi ke depannya,” harap Adnyana.
And The Winner is…..
Oktober 14, 2009All photos by : Nagi Oka
MALAM puncak Apresiasi Musik Bali 2008 berlalu sudah. Bertempat di Grand Mutiara Ballroom, Hotel Nikki, Denpasar, Jumat 7 November 2008 lalu acara ini digelar untuk pertama kalinya. Mendung tebal yang sempat menggelayut di langit kota Denpasar sejak menjelang sore, sempat membuat waswas kalau hujan bakal turun dan itu pertanda bakal banyak yang tidak bisa datang karena terhalang hujan. Sekalipun acara digelar di ruangan tertutup, masih banyak yang tidak rela berbasah-basahan menuju tempat acara tentunya ….
Dalam undangan memang dicantumkan kalau acara mulai pk. 19.00 wita, walau sejatinya di rundown acara sejak awal sudah diatur kalau acara baru benar-benar berlangsung pk. 19.30 wita. Toh masih banyak juga yang “ngaret” dengan berbagai macam argumentasi. Whatever…. yang jelas panitia mencoba untuk “on time”. Dan pk. 19.33 wita – setelah dua undangan khusus, Walikota Denpasar IB Rai Mantra dan Kadis Kebudayaan Bali, Drs. Nyoman Nikanaya bergabung dengan undangan lainnya –, acara pun dibuka dengan modern dance yang diiringi lagu berbahasa Bali “Made Cerik” (nyanyian Ikoyak).
Dipandu duet MC Agung Wirasutha dan Ayu Laksmi, tak perlu banyak basa-basi. Item demi item acara terus digeber… Dari 800 kursi yang disediakan, tak kurang dari 700 terisi oleh kalangan musisi indie dan lagu pop Bali, juga penikmat musik dan undangan lainnya. Sebanyak 18 penghargaan Gita Utama Nugraha dibagikan…. Layaknya sebuah acara serupa, tiap kali nominasi diumumkan melalui layar lebar, tepuk tangan dan sorak dari para pendukung atau yang memberi salut dan apresiasi memenuhi ruangan.
Selama 2,5 jam acara berlangsung, dimeriahkan penampilan sejumlah penyanyi Bali dan band indie — Trio Kirani, Di Ubud, Manik, Nanoe, XXX, The Wheels, Discotion Pill, Rockavatar –, juga menampilkan beberapa penyanyi dan musisi lain sebagai pembaca nama pemenang — Giri dan Cuplis (Tol Band Tol), Mang Gita & Putri “Gecko”, Sary “Nymphea” dan Gigox “Parau”, Robi dan Dankie “Navicula”, trio Jerinx, Eka, Bobby (SID), Margi dan Dian AFI, Ayu Saraswati & Eka Jaya –. And the winner is…..
Artis Pop Bali Favorit / Populer
1. Nanoe
2. Anantasika
3. Di Ubud
4. Trio Januadi
5. Tisna
6. XXX
7. 4 WD
Album Musik Indie Terbaik
1. Amphetamine – Discotion Pill
2. Malaikatmu – Nymphea
3. Rocker Kecil – The Wheels
4. Mimpi Tak Bertepi – Animo
5. Lagu Kita Orang Indonesia – Ed Eddy
Album Lagu Pop Bali Terbaik
1. Karya Agung – Ray Peni
2. Sangut Delem – XXX
3. Ke Lain Body – Tisna
4. Broken Made – Di Ubud
5. Truna Kampungan – Ary Kencana
6. Raos Kutang-kutang – Manik
Artis Indie Favorit / Populer
1. Nymphea
2. Discotion Pill
3. Painful By Kisses
4. Airplane
5. Puspa
6. Animo
7. De Buntu
Artis Musik Indie Terbaik
1. Nymphea
2. Discotion Pill
3. Painful By Kisses
4. Animo
5. The Wheels
Band Lagu Bali Terbaik
1. Boy & Bandit
2. Be Band
3. 4 WD
4. Di Ubud
5. [XXX]
Duo-Trio Pop Bali Terbaik
1. Trio Maniez
2. Trio Kirani
3. Trio Januadi
4. Duo Dewi
5. Tisna-Dian
Lagu Indie Favorit / Populer :
1. Duel Maut – De Buntu
2. Kecewa – Discotion Pill
3. Malaikatmu – Nymphea
4. Sempurna – Airplane
5. Sesal yang Tersisa – Painful By Kisses
6. Kronologi Pistol dan Amunisi – Ed Eddy & Residivis
Penghargaan Khusus
1. Abiyoga “Reaching The Stars”
2. Puspa “Someday”
3. Anantasika “Dados Penganten”
Penyanyi Pop Bali Terbaik (Wanita)
1. Agustin
2. Dewi Pradewi
3. Ayu Meta
4. Tisna
Lagu Indie Terbaik
1. Dewiku – Animo
2. Mimpi Tak Bertepi – Animo
3. Passion – Puspa
4. Malaikatmu – Nymphea
5. Habis – band_indonesia
6. Kronologi Pistol dan Amunisi – Ed Eddy
Lagu Pop Bali Favorit
1. Ceca Juga Manusa – Nanoe
2. Pianak Pak Komang – Trio Januadi
3. Truna Kampungan – Ary Kencana
4. 100% BTA – XXX
5. Bulan Bintang – Di Ubud
6. No Money No Honey – 4 WD
7. Ratu Sejagat – Trio Kirani
Penyanyi pop Bali Terbaik (pria)
1. Yasa Sega
2. Yan Ferry
3. Ary Kencana
4. Manik
5. Nanoe
6. Ray Peni
Sampul Album Terbaik
1. Sikite “Mabucu Telu”
2. Painful By Kisses “The Curse Of…”
3. Manik “Raos Kutang-kutang”
4. The Wheels “Rocker Kecil”
5. Nymphea “Malaikatmu”
6. Di Ubud “Broken Made”
Video Klip Musik Indie Terbaik
1. Dewiku – Animo
2. Sesal yang Tersisa – Painful By Kisses
3. Malaikatmu – Nymphea
4. Duel Maut – De Buntu
5. Kronologi Pisto dan Amunisi – Ed Eddy & Residivis
`
Video Klip Musik Pop Bali Terbaik
1. Sangut Delem – XXX
2. Depang Bintang Nyautin – Dewi Pradewi
3. Ke Lain Body – Tisna
4. Luh mai Luh _ 4 WD
5. Anak Kos – Nanoe
6. Raos Kutang-kutang – Manik
Penata Musik Lagu Pop Bali Terbaik
1. Sila – Album “Sangut Delem” (XXX)
2. Sila – Album “Ke Lain Body” (Tisna)
3. Eko Wicaksono – Album “raos Kutang-kutang” (Manik)
4. Dek Artha – Album “Ratu Sejagat” (Trio Kirani)
5. Dek Artha – Album “Cicing Kesanga” (Yasa Sega)
6. Dewa Marhen – Lagu “Depang Bintang Nyautin” (Dewi Pradewi)
Lagu Pop Bali Terbaik
1. Anak Kost – Nanoe
2. Merasa Tresna Pedidi – Di Ubud
3. Raos Kutang-kutang – Manik
4. Saniscara Kelara=lara – Anantasika
5. Gedenan Keneh – Yasa Sega
Nanoe: Gitar Tua Berkarat dan ‘’No Woman No Cry’’
September 20, 2008
Meskipun sudah sejak kecil gemar musik, dan beranjak remaja sudah bisa main gitar, ternyata Nanoe Biroe baru benar-benar punya gitar sendiri setelah dewasa. Umur 13 tahun ia sudah bisa memainkan gitar, lalu beranjak SMA mulai bikin band. Selama itu pula kalau ingin main, ia selalu meminjam gitar dari orang lain. ‘’Ya, baru-baru ini saja beli gitar. Gitar yang pertama kali saya beli dari duit sendiri, gitar bolong harganya Rp 57 ribu. Itu saya beli dengan uang tabungan sendiri. Waktu beli masih ada susuk lagi Rp 3.000,’’ cerita Nanoe sambil tertawa.
Lewat gitar yang disebutnya ‘’gitar tua berkarat” itulah, Nanoe mulai coba-coba membikin lagu sendiri. Dari gitar itu pula mengalir beberapa lagu ciptaannya baik yang sempat dibawakan bersama Biroe di album indie ‘’Langkah Pertama’’ (2002) juga lagu-lagu Bali lainnya. Tapi lagu yang benar-benar orisinal pertama kali lahir dari gitar itu, lagu berbahasa Bali judulnya ‘’Magending No Woman No Cry’’. Ceritanya tentang cowok yang sendirian tidak punya pacar, tapi tak mau larut dalam kesedihan atau kesendirian, lalu menghibur diri dengan lagunya Bob Marley, ‘’No Woman No Cry’’.
Lalu kenapa lagu “bersejarah” itu tidak diikutkan dalam rekaman Nanoe baik di album ‘’Suba Kadung Matulis’’ juga “Matunangan Ngajak Dewa”?
‘’Pertimbangannya masih ada yang lagu lain yang lebih kuat, stok lagu juga cukup banyak,’’ terang Nanoe.
Di sisi lain, upaya Nanoe menjaring penggemar dan mengumpulkan mereka dalam satu wadah yang disebut Pasemetonan Suka Duka Baduda bisa dibilang cukup berhasil. Sama halnya dengan Slank yang memunculkan Slankers, atau Iwan Fals dengan OI nya. Walaupun komunitas ini muncul sebagai satu kesatuan dengan perjalanan kariernya sebagai penyanyi lagu pop Bali, Nanoe punya keinginan Baduda tidak hanya seumur kariernya saja.
‘Kalaupun nanti misalnya saya tidak bikin rekaman lagi, saya ingin ini tetap ada sebagai wadah komunikasi atau kekerabatan,’’ harapnya.
Lain dari itu Nanoe tidak memungkiri, popularitas dan penggemar yang banyak membuat beberapa pihak seperti partai politik mulai meliriknya sebagai corong kampanye yang potensial. ‘’Memang ada yang menawari agar saya ikut bergabung di partai politik, tetapi saya tidak mau. Bagaimanapun musik dan lagu yang saya mainkan untuk semua golongan, tidak khusus satu pihak tertentu saja. Sementara biarlah saya berkiprah di musik saja dulu. Mungkin sama seperti Bob Marley yang tetap setia di musik, tak mau terjun ke dunia politik,’’ demikian Nanoe
Widi Widiana Takkan Tinggalkan Lagu Bali
September 20, 2008
MENELUSURI perkembangan lagu pop Bali, sulit rasanya lepas dari nama Widi Widiana. Bagaimanapun, penyanyi asal Kuta ini pernah memberi warna tersendiri dan memunculkan semacam trend baru lagu pop berbahasa Bali dengan sentuhan nuansa musik mandarin. Sebut misalnya “Sesapi Putih” yang melejitkan namanya sebagai bintang di pertengahan 90-an. Hingga awal 2000-an, sebelum trend grup band dengan musik rock berbahasa Bali muncul, popularitas Widi Widiana belum tertandingi. Tak heran ketika Widi Widiana lama tidak muncul setelah terakhir melepas “”, banyak yang bertanya-tanya, ke mana gerangan pelantun “Janji Bulan November” ini?
Saat dihubungi BM2, Widi Widiana langsung merespons pertanyaan penggemarnya itu. “Saya nggak kemana-mana. Memang sih ada kegiatan, usaha kecil-kecilan, tetapi bukan berarti saya banting stir, tidak menyanyi lagi,” ujarnya.
Widi mengakui, belakangan intensitas pemunculannya di hadapan publik memang sangat jarang. Sesungguhnya ini bisa dimaklumi, karena secara menyeluruh pentas musik atau lagu Bali juga tidak seramai dulu. Selain itu lesunya peredaran rekaman berbahasa Bali turut berpengaruh. Ia pun menampik anggapan kalau ada kesan menyerah, lalu memutuskan untuk berhenti atau meninggalkan lagu pop Bali. “Sedikit pun tidak ada rasa menyerah atau keinginan untuk meninggalkan lagu Bali. Ketika kondisi memang tidak sebagus awal 2000 saat lagu Bali sedang booming, saya Cuma memutuskan untuk mengambil jeda saja, sambil mempersiapkan apa yang harus saya lakukan ke depan,” jelasnya.
Keyakinan Widi untuk tidak menyerah dan percaya masih bisa berbuat sesuatu untuk lagu pop Bali tentunya bukan keyakinan dalam diri sendiri saja. Tak jarang saat pergi ke manapun, banyak yang bertanya-tanya, kapan ia akan muncul lagi. Pun, masih banyak yang menyatakan rindu atau kangen mendengar lagu-lagu Widi Widiana yang lama. Hal inilah yang kian menguatkan tekadnya untuk tetap bertahan.
“Memang cukup lama saya belum merilis album baru. Sesungguhnya materi sudah ada, bahkan sudah selesai digarap 100 persen. Sekarang tinggal menunggu saat yang tepat untuk muncul lagi. Segala sesuatunya tentu perlu dipersiapkan, agar jangan sampai saat muncul lagi, tidak ada kesan atau sesuatu yang istimewa,” ujarnya.
Untuk penggarapan album barunya, Widi Widiana mengaku santai-sangai saja, tidak ada beban, tidak dikejar target kapan harus kelar atau dirilis. “Pastilah lihat situasi dulu, mengingat pasaran tidak sebagus yang dulu. Jadi tidak usah nekad atau asal bikin… Ya, semoga saja apa yang akan saya keluarkan nanti bisa mengobati kerinduan penggemar di seluruh Bali,” demikian Widi yang mengaku ada pemikiran untuk satu saat menggelar semacam konser nostalgia dengan menyanyikan lagu-lagu lamanya yang pernah menjadi hits.
Ditulis oleh mybalimusic 





