MESKIPUN masih menunjukkan geliat yang cukup bagus, tidak bisa dimungkiri, kreativitas musisi dan penyanyi di Bali mengalami penurunan yang cukup drastis dalam setahun terakhir. Semangat untuk berkarya masih tetap tinggi atau ada, namun dalam menyikapi kondisi yang memang kurang begitu kondusif, banyak yang tak bisa berbuat apa. Akibatnya bisa dirasakan dari merosotnya jumlah rekaman musisi Bali yang beredar sepanjang tahun ini.
Di jalur lagu pop Bali, penurunan mencapai hampir 30 persen. Jika periode Oktober 2007 – September 2008 misalnya tercatat ada sekitar 30 album rekaman lagu Bali yang beredar, maka periode Oktober 2008 – September 2009, hanya ada 21 album rekaman yang dirilis. Penurunan paling drastis terjadi di kancah musik indie Bali. Jika setahun lalu jumlah album indie yang beredar mencapai sekitar 23 judul, tahun ini tercatat hanya ada 11 judul.
Angka-angka tersebut tentu tak termasuk kreativitas musisi indie maupun lagu pop Bali yang hanya merilis single, atau sudah rekaman tetapi masih sebatas demo saja. Penurunan tersebut tentu mengundang tanda tanya, bagaimana prediksi di tahun-tahun mendatang? Khususnya di jalur musik indie, malah ada kekhawatiran akhirnya semua kembali lebih fokus pada kesibukan manggung saja, dan tak bergairah untuk menggarap album atau paling tidak mini album. Kalau menuangkan kreativitas hanya dalam bentuk single, atau merilis satu lagu saja, barangkali masih akan tetap tampak beberapa waktu ke depan.
Ibarat nyala api atau nyala lilin, aktivitas dan gairah (bukan hanya produser saja) untuk merilis album rekaman memang kian meredup. Maka perlu menjadi perhatian kiranya bagaimana menjaga agar nyala yang kian meredup ini jangan sampai padam. Kalaulah nyala ini masih tetap bisa dipertahankan, siapa tahu, nyen nawang buin pidan, kondisi akan membaik, geliat berproduksi insan musik di Bali akan meningkat lagi.
Sejalan dengan pemikiran itu pula, Bali Music Magazine berupaya untuk tetap melanjutkan gelaran tahunan Malam Apresiasi Musik Bali. Sejak dilangsungkan pertama kali 2008 lalu, ajang penghargaan bagi kreativitas insan musik di Bali ini, diharapkan bukan hanya sekadar sebagai sebuah kebanggaan, namun juga bisa memacu semangat pemusik di Bali untuk tetap berkarya meskipun dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Jika tidak ada aral melintang, acara yang diisi dengan penganugrahan Gita Utama Nugraha ini akan digelar 7 November mendatang di Nirmala Hotel & Convention, Jl. Mahendradatta No. 81 Denpasar.
“Penghargaan semacam ini perlu tetap ada. Karena dengan acara ini insan musik di Bali masih ada semangat untuk tetap bertahan, juga berupaya menumbuhkan optimisme untuk berkarya lagi bagi perkembangan musik Bali yang cukup lama mengalami kelesuan,” komentar penyanyi lagu pop Bali, Ayu Stiati.
“Sudah selayaknya Gita Utama Nugraha dilanjutkan, agaer bisa menjadi motivasi bagi pelaku musik di Bali. Tetap semangat,” kata Nanoe Biroe.
“Kalau bisa terus dilanjutkan, karena ini positif buat musisi muda untuk mengembangkan bakatnya,” ujar Marselo, vokalis band The Hydrant.
“Pasar rekaman lagu lesu, susah dapat untung, kata produser. Di lain sisi, kebutuhan dasar dari penyanyi dan musisi perlu dilanjutkan. Yang namanya apresiasi, sebagai salah satu kebutuhan seniman musik, perlu terus dilaksanakan, agar seniman tetap terpacu berkarya,” harap musisi sekaligus penata rekaman lagu pop Bali, Eko Wicaksono.
Oktober 22, 2009 pukul 10:18 pm |
Vote for tunnetta
Oktober 24, 2009 pukul 1:25 am |
TOLBANDTOL!!!!