Rock N’ Roll Jalan Terus

September 20, 2008

 

 

The Hydrant vakum? The Hydrant bubar? Bagaimana nasib band rockabilly asal Bali ini? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup banyak terlontar setelah beberapa waktu belakangan volume manggung The Hydrant tidak sekencang beberapa waktu lalu. Terlebih sepeninggal Zio, bassist band ini yang berangkat ke luar negeri, disusul hengkangnya Morris, drummer yang selalu tampil dengan gaya tersendiri itu, dan terakhir cabutnya Jappy yang cukup lama memanajeri mereka. Namun segala dugaan itu langsung ditepis Wis, gitaris grup yang memainkan musik rockabily, adaptasi dari rock n’ roll awal tahun 60-an ini. “Rock n’ roll must go on… nggak boleh berhenti,” tegas Wis.

 

Karenanya untuk tetap menjaga kiprah dari panggung ke panggung, saat ini The Hydrant menggaet Iwan (Pandawa, Boys Don’t Cry) untuk mengisi posisi bass, dan  Metta (Jeanie) sebagai drummer. Nyamankah The Hydrant dengan masuknya dua nama yang punya latar belakang musik berbeda ini?

 

“Orang Bali ternyata sangat potensial untuk bisa bisa main musik rockabilly. Sekalipun mereka adalah pemain musik yang berbeda, namun tidak fanatik pada jenis musik itu. So far… mereka bisa kami ajak main,” komentar Marshello, vokalis yang selalu heboh di atas pentas ini.

Baik Marshello maupun Wis mengakui kalau Iwan dan Metta belum menjadi personel tetap, namun juga lebih dari sekadar additional musician. “Kami memang tidak melakukan audisi untuk posisi drum dan bass. Kami lebih sepakat untuk melakukan pendekatan secara personal, sehingga rasanya lebih nyaman dan bisa membawa mereka untuk mengikuti rockabily yang kami mainkan,” kilah Wis.

 

Walau demikian ia tidak menutup kemungkinan jika ke depan bisa saja kedua musisi muda itu akan menjadi personel tetap, bergabung bersama The Hydrant. “Saya sendiri tidak mengatakan apakah mereka akan seterusnya bersama kami. Saya mencoba melihat ke depan secara positif saja. Saya tetap memberi dorongan kepada mereka agar bisa bermain lebih baik dari kami. Ya… mungkin saja mereka masuk ke formasi baru The Hydrant,” tambah Marshello.

 

Wis dan Marshello jelas tidak bisa berdiam diri atau menunggu apakah satu saat Zio dan Morris akan kembali bersama mereka. Sementara The Hydrant sendiri harus tetap ada, dan jalan terus. Terlebih band ini tengah menggarap album ketiga, setelah “Saturday Night Riot” (2005) yang dirilis secara indie, dan “Rockabilly Live” yang dirilis di bawah label EMI. “Lima lagu sudah kelar direkam formasi The Hydrant masih ada Zio dan Morris. Tinggal tiga lagu yang masih belum rampung, nah untuk ini baru kami libatkan Iwan dan Metta,” jelas Wis.

 

The Hydrant sendiri terbentuk 2004, diawali dari Wis dan Zio yang sebelumnya bergabung bersama band Hydra. Bersama Marshello, penyanyi yang sehari-harinya bertugas sebagai penyelamat pantai, dan Morris (drummer, adik kandung Zio), empat pemuda ini kemudian memainkan rockabily yang benar-benar kental dengan nuansa musik era 50 hingga 60-an. Musik lawas menjadi sesuatu yang fresh di tangan mereka, ditambah aksi panggung yang atraktif dari masing-masing personel. Tak heran kalau dalam waktu singkat pemunculan The Hydrant langsung menarik perhatian di komunitas indie Bali, hingga mereka dilirik label nasional EMI. Maka sangat wajar kalau Wis dan Marshello merasa sayang kalau kiprah mereka tidak berlanjut hanya karena masalah personel. Pokoknya the show must go on, rock n’ roll jalan terus….


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.