Bintang Tinggal Berempat

September 20, 2008

 

SETELAH lima tahun lebih solid berlima, kini Bintang tinggal berempat. Jun masih di posisi vokal, diperkuat Ari (gitar), Ogix (bass), dan Tut De (drum). Ke mana Temi, keyboardist band ini? Menjelang penggarapan album terbaru atau album kelima Bintang, Temi mengundurkan diri. “Temi minta berhenti dari Bintang karena kesibukan kerja. Kami tidak bisa menghalangi, kami relakan kalau akhirnya kini Bintang berempat saja. Now the real Bintang was born,” terang  Jun.

Dengan formasi berempat ini, Jun mengaku di lagu-lagu barunya nanti, musik Bintang menjadi minimalis, namun unsur rock lebih kental. Walau begitu tetap saja ada lagu yang ditampilkan melankolis. Jika proses rekaman baru bisa dimulai September ini, bisa dimaklumi karena sebagaimana yang pernah dituturkan Jun, Bintang masih menunggu kepulangan Tut De, yang selama beberapa bulan berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Sekembalinya drummer kalem ini pertengahan Agustus lalu, Bintang mulai bersiap untuk penggarapan album baru.

 

Jun memberi bocoran, rencananya album Bintang nanti akan memuat 10 lagu, dengan komposisi 7 lagu berbahasa Bali, 2 lagu berbahasa Indonesia, dan 1 lagu berbahasa Jepang. Materinya sendiri sudah siap, tinggal memasuki proses rekaman. “Yang jelas saya berharap banyak dan optimis dengan album baru ini nanti. Tahun ini kami betul-betul bersemangat, terlebih sekembalinya Tut De,” ujarnya.

 

Disinggung mengenai situasi pasar rekaman yang lesu belakangan ini, yang juga melanda penjualan kaset lagu berbahasa Bali, Jun hanya berucap, “Soal pasar, kami tidak begitu pusing. Yang penting saat ini berkarya terus buat Bali.”

 

Bintang mulai berkiprah di blantika lagu pop Bali dengan merilis album “Bajingan” di awal 2004. Sejumlah hits muncul dari album ini seperti “Nusuk”, “Dewa Ratu”. Setahun berikutnya, Bintang muncul lebih manis di album “Playboy Funky” yang melejitkan lagu “Matunangan Ajak I Luh” dan “YSJTLKTTTNN” alias “yen suba jodoh tusing lakar kija tresnane teka tusing ngorang-ngorang”. Tahun 2006, Bintang melepas “Rambo Olo-olo” yang mempopulerkan lagu “Arigatou Made”. Terakhir, band yang terbilang cukup aktif di blantika lagu Bali ini merilis “Sok USA”.


Rock N’ Roll Jalan Terus

September 20, 2008

 

 

The Hydrant vakum? The Hydrant bubar? Bagaimana nasib band rockabilly asal Bali ini? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup banyak terlontar setelah beberapa waktu belakangan volume manggung The Hydrant tidak sekencang beberapa waktu lalu. Terlebih sepeninggal Zio, bassist band ini yang berangkat ke luar negeri, disusul hengkangnya Morris, drummer yang selalu tampil dengan gaya tersendiri itu, dan terakhir cabutnya Jappy yang cukup lama memanajeri mereka. Namun segala dugaan itu langsung ditepis Wis, gitaris grup yang memainkan musik rockabily, adaptasi dari rock n’ roll awal tahun 60-an ini. “Rock n’ roll must go on… nggak boleh berhenti,” tegas Wis.

 

Karenanya untuk tetap menjaga kiprah dari panggung ke panggung, saat ini The Hydrant menggaet Iwan (Pandawa, Boys Don’t Cry) untuk mengisi posisi bass, dan  Metta (Jeanie) sebagai drummer. Nyamankah The Hydrant dengan masuknya dua nama yang punya latar belakang musik berbeda ini?

 

“Orang Bali ternyata sangat potensial untuk bisa bisa main musik rockabilly. Sekalipun mereka adalah pemain musik yang berbeda, namun tidak fanatik pada jenis musik itu. So far… mereka bisa kami ajak main,” komentar Marshello, vokalis yang selalu heboh di atas pentas ini.

Baik Marshello maupun Wis mengakui kalau Iwan dan Metta belum menjadi personel tetap, namun juga lebih dari sekadar additional musician. “Kami memang tidak melakukan audisi untuk posisi drum dan bass. Kami lebih sepakat untuk melakukan pendekatan secara personal, sehingga rasanya lebih nyaman dan bisa membawa mereka untuk mengikuti rockabily yang kami mainkan,” kilah Wis.

 

Walau demikian ia tidak menutup kemungkinan jika ke depan bisa saja kedua musisi muda itu akan menjadi personel tetap, bergabung bersama The Hydrant. “Saya sendiri tidak mengatakan apakah mereka akan seterusnya bersama kami. Saya mencoba melihat ke depan secara positif saja. Saya tetap memberi dorongan kepada mereka agar bisa bermain lebih baik dari kami. Ya… mungkin saja mereka masuk ke formasi baru The Hydrant,” tambah Marshello.

 

Wis dan Marshello jelas tidak bisa berdiam diri atau menunggu apakah satu saat Zio dan Morris akan kembali bersama mereka. Sementara The Hydrant sendiri harus tetap ada, dan jalan terus. Terlebih band ini tengah menggarap album ketiga, setelah “Saturday Night Riot” (2005) yang dirilis secara indie, dan “Rockabilly Live” yang dirilis di bawah label EMI. “Lima lagu sudah kelar direkam formasi The Hydrant masih ada Zio dan Morris. Tinggal tiga lagu yang masih belum rampung, nah untuk ini baru kami libatkan Iwan dan Metta,” jelas Wis.

 

The Hydrant sendiri terbentuk 2004, diawali dari Wis dan Zio yang sebelumnya bergabung bersama band Hydra. Bersama Marshello, penyanyi yang sehari-harinya bertugas sebagai penyelamat pantai, dan Morris (drummer, adik kandung Zio), empat pemuda ini kemudian memainkan rockabily yang benar-benar kental dengan nuansa musik era 50 hingga 60-an. Musik lawas menjadi sesuatu yang fresh di tangan mereka, ditambah aksi panggung yang atraktif dari masing-masing personel. Tak heran kalau dalam waktu singkat pemunculan The Hydrant langsung menarik perhatian di komunitas indie Bali, hingga mereka dilirik label nasional EMI. Maka sangat wajar kalau Wis dan Marshello merasa sayang kalau kiprah mereka tidak berlanjut hanya karena masalah personel. Pokoknya the show must go on, rock n’ roll jalan terus….


Trio Januadi : Sampai Kami tak Punya Penggemar

September 20, 2008

Trio Januadi muncul lagi. Ya, di tengah lesunya peredaran kaset belakangan ini, trio yang digawangi Ary Kencana, Jaya Pangus, dan Tut Asmara ini masih menyimpan asa. Paling tidak rilis album kedua mereka yang bertajuk “Pianak Pak Komang” awal bulan ini menunjukkan kalau mereka masih eksis tak hanya dari panggung ke panggung saja. Meskipun bagi kebanyakan produser rekaman lagu pop Bali, merilis album baru saat ini benar-benar dianggap “gambling”, toh Tut Asmara sebagai produser juga sebagai salah satu personel Trio Januadi tak rela kalau kreativitas mereka harus terhenti begitu saja. Dalam satu kesempatan berbincang-bincang dengan BM2, Tut Asmara menuturkan kiprah Trio Januari dan harapan-harapan ke depan. Berikut petikannya.

 

Ada yang berubah dari Trio Januadi sekarang, terutama dengan rilis album kedua?

Hmm…. kalau dari segi musik dan lagu mungkin nggak terlalu banyak perubahan. Masyarakat sudah mengetahui Trio Januadi dengan lagu seperti “Cuci Mata”, “Putri Bali Sujati”, atau “Petapan Ambengan”. Kalau misalnya kami merubah warna musik lagi, khawatirnya malah sulit diterima. Tapi yang jelas kami merasa apa yang kami lakukan sekarang ini lebih matang, kami selalu mencoba memperbaiki penampilan, biar penggemar tidak bosan, atau dengan kata lain penampilan Trio Januadi biar nggak begitu-begitu saja.

Satu hal yang pasti gaya dan penampilan kami pastinya lebih mewakili karakter dewasa, orang tua. Nggak mungkin kami tampil seperti truna-truna lagi karena memang secara usia kian bertambah. Intinya untuk urusan panggung, kami ingin masyarakat melihat penampilan kami secara lebih dewasa.

 

Bagaimana peluang Trio Januadi ke depan, terlebih menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan untuk industri rekaman sekarang ini?

Ya, kami optimis kehadiran Trio Januari masih bisa diterima masyarakat. Paling nggak untuk penampilan langsung atau manggung, masih dapat respon dari masyarakat. Ini terbukti dalam beberapa kali pentas kami belakangan, masih tetap dapat sambutan bagus. Memang kebanyakan penggemar kami katanya kaum ibu-ibu, tetapi kami sendiri berharap umum juga bisa menerima. Paling tidak mereka yang tidak terlalu suka dengan musik kencang, bisa menikmati lagu-lagu yang kami yang lebih soft  namun tetap ceria.

 

Sebenarnya personel Trio Januadi lebih suka tampil sendiri atau bertiga?

Kalau saya pribadi, entah kenapa, makin sering tampil sendiri makin tak percaya diri. Tapi kalau tampil bertiga dalam format trio,  jadi makin ada pede, lebih berani. Lama-kelamaan rasanya lebih asyik tampil bertiga memang.

 

Masih ada nggak yang mencibir atau mengkritik penampilan Trio Januadi yang awalnya sempat dibilang masih kaku, norak, dan sebagainya?

Kalau yang ngomong langsung sih tidak ada, tetapi kalau yang kirim SMS masih ada, ya pada intinya mengatakan kalau apa yang kami lakukan jelek, nggak bagus lah. Tapi kami anggap itu sebagai satu masukan saja.

 

Saat ini apa tantangan utama yang dihadapi Trio Januadi agar bisa tetap eksis dan diminati masyarakat?

Kalau soal kekompakan, kami tetap kompak. Di antara kami tidak pernah ada konflik atau saling diem-dieman. Apalagi kami terbuka untuk segala hal termasuk dalam hal pembagian honor secara adil. Intinya kami nggak mau neko-neko, masing-masing sudah punya peran.

Paling sekarang ini tantangan yang kami hadapi adalah bagaimana menjaga penampilan, karena ada beberapa yang mengkritik juga memberi saran, katanya kami mulai gendut, nggak seperti dulu, jadinya kurang enak dilihat. Wah, kalau yang ini sih agak sulit, karena kami juga sudah mencoba untuk diet, ha ha ha …..

 

Sekarang penjualan kaset menurun drastis, tapi penyanyi masih bisa diuntungkan karena dapat tawaran manggung. Bagaimana tanggapan Trio Januadi?

Sebenarnya nggak terima sih kalau pemasaran kaset anjlok, meskipun sebagai penyanyi ngga apa-apa karena toh masih bisa manggung, masih bisa pentas, masih dikenal masyarakat. Cuma kalau kaset sudah tidak laku dijual, tidak ada yang meminat, khawatirnya untuk berkarya selanjutnya akan terhambat.

 

Apakah personel Trio Januadi begitu menggantungkan harapan dari kelangsungan di dunia musik?

Nggak juga. Kalau hanya mengandalkan penghasilan dari honor manggung, tentu sulit ya… Makanya tiap kali selalu kami sadari kalau mau bisa tetap bertahan kami juga harus punya kegiatan atau pekerjaan bidang lain. Paling nggak bisa saling mendukung nantinya.

 

Personel Trio Januadi umurnya beragam, misalnya usia Tut Asmara terpaut cukup jauh dengan Ary Kencana, bahkan Jaya Pangus. Sulit nggak untuk menyesuaikan diri antarpersonel?

Kalau dari segi kostum sih nggak ya. Cuma kalau dilihat dari penampilan atau wajah, jelas nggak bisa disembunyikan kalau raut tua sudah mulai terlihat. Tapi kalau urusan manggung, biasanya jika kostum sudah matching satu sama lain, perbedaan itu nggak begitu kentara.

 

Sebagai Trio, sering tampil, harus sering ganti kostum biar tidak monoton, berat nggak mengurusnya karena ini juga menyangkut biaya?

Selama ingi nggak ada masalah. Sebagai produser, memang saya yang menanggung, tetapi itu tidak soal, karena biar kami bisa tampil kompak, toh itu untuk kepentingan pentas, kepentingan bersama.

 

Apa karena status sebagai produser, Anda kemudian punya wewenang untuk mendikte, atau mengarahkan Trio Januadi mau dibawa kemana misalnya?

Saya nggak pernah terkesan mendikte personel lainnya, saya bersikap wajar-wajar saja, apa yang kami perbuat berdasarkan kesepakatan bersama.

 

Ke depan apa yang diharapkan Trio Januadi?

Tentunya kami ingin tetap berkarya. Bahkan saya sempat bicara sama Ary Kencana, selama kami masih mampu, selama kami masih bisa, kami akan tetap berkarya, sampai masyarakat benar-benar bosan, sampai sudah tak punya penggemar lagi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.