
Trio Januadi muncul lagi. Ya, di tengah lesunya peredaran kaset belakangan ini, trio yang digawangi Ary Kencana, Jaya Pangus, dan Tut Asmara ini masih menyimpan asa. Paling tidak rilis album kedua mereka yang bertajuk “Pianak Pak Komang” awal bulan ini menunjukkan kalau mereka masih eksis tak hanya dari panggung ke panggung saja. Meskipun bagi kebanyakan produser rekaman lagu pop Bali, merilis album baru saat ini benar-benar dianggap “gambling”, toh Tut Asmara sebagai produser juga sebagai salah satu personel Trio Januadi tak rela kalau kreativitas mereka harus terhenti begitu saja. Dalam satu kesempatan berbincang-bincang dengan BM2, Tut Asmara menuturkan kiprah Trio Januari dan harapan-harapan ke depan. Berikut petikannya.
Ada yang berubah dari Trio Januadi sekarang, terutama dengan rilis album kedua?
Hmm…. kalau dari segi musik dan lagu mungkin nggak terlalu banyak perubahan. Masyarakat sudah mengetahui Trio Januadi dengan lagu seperti “Cuci Mata”, “Putri Bali Sujati”, atau “Petapan Ambengan”. Kalau misalnya kami merubah warna musik lagi, khawatirnya malah sulit diterima. Tapi yang jelas kami merasa apa yang kami lakukan sekarang ini lebih matang, kami selalu mencoba memperbaiki penampilan, biar penggemar tidak bosan, atau dengan kata lain penampilan Trio Januadi biar nggak begitu-begitu saja.
Satu hal yang pasti gaya dan penampilan kami pastinya lebih mewakili karakter dewasa, orang tua. Nggak mungkin kami tampil seperti truna-truna lagi karena memang secara usia kian bertambah. Intinya untuk urusan panggung, kami ingin masyarakat melihat penampilan kami secara lebih dewasa.
Bagaimana peluang Trio Januadi ke depan, terlebih menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan untuk industri rekaman sekarang ini?
Ya, kami optimis kehadiran Trio Januari masih bisa diterima masyarakat. Paling nggak untuk penampilan langsung atau manggung, masih dapat respon dari masyarakat. Ini terbukti dalam beberapa kali pentas kami belakangan, masih tetap dapat sambutan bagus. Memang kebanyakan penggemar kami katanya kaum ibu-ibu, tetapi kami sendiri berharap umum juga bisa menerima. Paling tidak mereka yang tidak terlalu suka dengan musik kencang, bisa menikmati lagu-lagu yang kami yang lebih soft namun tetap ceria.
Sebenarnya personel Trio Januadi lebih suka tampil sendiri atau bertiga?
Kalau saya pribadi, entah kenapa, makin sering tampil sendiri makin tak percaya diri. Tapi kalau tampil bertiga dalam format trio, jadi makin ada pede, lebih berani. Lama-kelamaan rasanya lebih asyik tampil bertiga memang.
Masih ada nggak yang mencibir atau mengkritik penampilan Trio Januadi yang awalnya sempat dibilang masih kaku, norak, dan sebagainya?
Kalau yang ngomong langsung sih tidak ada, tetapi kalau yang kirim SMS masih ada, ya pada intinya mengatakan kalau apa yang kami lakukan jelek, nggak bagus lah. Tapi kami anggap itu sebagai satu masukan saja.
Saat ini apa tantangan utama yang dihadapi Trio Januadi agar bisa tetap eksis dan diminati masyarakat?
Kalau soal kekompakan, kami tetap kompak. Di antara kami tidak pernah ada konflik atau saling diem-dieman. Apalagi kami terbuka untuk segala hal termasuk dalam hal pembagian honor secara adil. Intinya kami nggak mau neko-neko, masing-masing sudah punya peran.
Paling sekarang ini tantangan yang kami hadapi adalah bagaimana menjaga penampilan, karena ada beberapa yang mengkritik juga memberi saran, katanya kami mulai gendut, nggak seperti dulu, jadinya kurang enak dilihat. Wah, kalau yang ini sih agak sulit, karena kami juga sudah mencoba untuk diet, ha ha ha …..
Sekarang penjualan kaset menurun drastis, tapi penyanyi masih bisa diuntungkan karena dapat tawaran manggung. Bagaimana tanggapan Trio Januadi?
Sebenarnya nggak terima sih kalau pemasaran kaset anjlok, meskipun sebagai penyanyi ngga apa-apa karena toh masih bisa manggung, masih bisa pentas, masih dikenal masyarakat. Cuma kalau kaset sudah tidak laku dijual, tidak ada yang meminat, khawatirnya untuk berkarya selanjutnya akan terhambat.
Apakah personel Trio Januadi begitu menggantungkan harapan dari kelangsungan di dunia musik?
Nggak juga. Kalau hanya mengandalkan penghasilan dari honor manggung, tentu sulit ya… Makanya tiap kali selalu kami sadari kalau mau bisa tetap bertahan kami juga harus punya kegiatan atau pekerjaan bidang lain. Paling nggak bisa saling mendukung nantinya.
Personel Trio Januadi umurnya beragam, misalnya usia Tut Asmara terpaut cukup jauh dengan Ary Kencana, bahkan Jaya Pangus. Sulit nggak untuk menyesuaikan diri antarpersonel?
Kalau dari segi kostum sih nggak ya. Cuma kalau dilihat dari penampilan atau wajah, jelas nggak bisa disembunyikan kalau raut tua sudah mulai terlihat. Tapi kalau urusan manggung, biasanya jika kostum sudah matching satu sama lain, perbedaan itu nggak begitu kentara.
Sebagai Trio, sering tampil, harus sering ganti kostum biar tidak monoton, berat nggak mengurusnya karena ini juga menyangkut biaya?
Selama ingi nggak ada masalah. Sebagai produser, memang saya yang menanggung, tetapi itu tidak soal, karena biar kami bisa tampil kompak, toh itu untuk kepentingan pentas, kepentingan bersama.
Apa karena status sebagai produser, Anda kemudian punya wewenang untuk mendikte, atau mengarahkan Trio Januadi mau dibawa kemana misalnya?
Saya nggak pernah terkesan mendikte personel lainnya, saya bersikap wajar-wajar saja, apa yang kami perbuat berdasarkan kesepakatan bersama.
Ke depan apa yang diharapkan Trio Januadi?
Tentunya kami ingin tetap berkarya. Bahkan saya sempat bicara sama Ary Kencana, selama kami masih mampu, selama kami masih bisa, kami akan tetap berkarya, sampai masyarakat benar-benar bosan, sampai sudah tak punya penggemar lagi.